DUMAI (VOKAL) – Ayu (28) salah seorang ibu rumah tangga (IRT), di ketahui melakukan percobaan bunuh diri di dalam ruangan bedah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kota Dumai, pada senin sekira pukul 17.00 sore.
Pelaku menusukkan sebilah pisau kebagian perutnya dan mengeluarkan banyak darah. Namun meskipun telah sempat mendapat perawatan sebelumnya oleh pihak rumah sakit sayang pelaku juga tidak dapat tertolong lagi akibat telah banyak mengeluarkan darah.
Setelah di bereskan mayat pelaku oleh perawat RSUD kota Dumai jenazah pelaku langsung di bawa ke kampung halaman nya di Bengkalis,
Selain itu pihak keluarga pelaku juga melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian untuk menyelidiki apakah ada unsur dugaan lain di balik kematian Ayu tersebut.
AKBP Rudi Abdi Kasenda Melalui Kasat reskrim, AKP Defi Firmansyah, kepada Vokal selasa (7/6) membenarkan adanya laporan terkait kematian Ayu (28) yang di duga telah melakukan percobaan bunuh diri di ruang bedah pasien di RSUD kota Dumai sekira pukul 17.00 WIB.”kata kasat.
Setakad ini kata kasat, pihaknya masih terus melakukan pemeriksaan terhadap saksi di tempat kejadian perkara (TKP) dan kepada pihak keluarga yang di kabarkan sempat terjadi konflik bersama pihak keluarga.”terang kasat.
Hal ini tidak hanya di lakukan nya sekali ini kata kasat, percobaan bunuh diri seperti ini menurut keterangan keluarga sudah sering ia lakukan, dan yang kesekian kali inilah nyawanya tak dapat di selamatkan lagi.”tutur kasat.(egy)
Berita Kriminal,di rangkum oleh seorang wartawan yang tengah bekerja di salah satu media di kota Dumai,Vokal salah satu media di Riau Yang Tengah di minati oleh masyarakat kota,hingga saat ini penulis masih berakar di media Vokal Tersebut.
Selasa, 07 Juni 2011
Labfor Polres Dumai Kembali lakukan Olah TKP Perampokan
>> Beberapa Barang Bukti Di Amankan Untuk Pengambilan Sidik Jari TSK
DUMAI (VOKAL) – Pihak kepolisian resort (Polres) Dumai, kembali melakukan penyidikan Tempat Kejadian Perkara (TKP), selasa (7/6) siang guna mengambil sidik jari pelaku perampokan yang disertai dengan dugaan pemerkosaan, dan pembunuhan, terhadap korban Tianova Risayulbi (16) dan ibu tirinya Lilis Suryani (45).
Dari TKP pihak kepolisian berhasil mengamankan dua buah botol minuman keras merek Vodka, dan serpihan pecahan piala yang di duga untuk menghabisi nyawa korban, selain itu juga beberapa bagian rumah yang diduga telah di sentuh olek pelaku juga di olah untuk pengembilan seidik jari tersangka.
Hal tersebut sudah yang kedua kalinya di lakukan oleh pihak labfor polres dan beberapa satuan Intel Polres Dumai, guna menyelidiki siapa tersangka yang telah melakukan pembunuhan dan dugaan pemerkosaan tersebut.
Pihak kepolisian telah diberikan batasan penyidikan oleh Kapoles selama tiga bulan kasus tersebut harus sudah terselesaikan, dan dalam jangka satu minggu harus ada perkembangan penyidikan paling tidak telah di temukan titik terang nya.
kapolres AKBP Rudi Abdi kasenda, melalui Kasubag Humas AKBP Suwarji kepada Vokal selasa (7/6) saat di temui di ruangan nya. Mengatakan,” pihak kepolisian telah mendapat arahan untuk dapat melakukan penyidikan selama tiga bulan paling lambat pelaku harus sudah di temukan,dan jarak satu minggu harus sudah ada titik terang dari penyidikan kasus perampokan yang di sertai pembunuhan tersebut.”kata Suwarji.
Selain itu Suwarji sangat mengharap kan kerja sama seluruh lapisan masyarakat untuk membantu pihak kepolisian dalam mengungkap informasi serta menyelesaikan setiap ada hal kasus yang senada,”pintanya.
Dalam jangka dua hari telah di temukan tiga sosok mayat di tempat yang berbeda dengan modus yang sama serta jumlah korban yang berbeda, selain korban nova dan ibu nya kembali di temukannya salah seorang mayat laki-laki yang bernama Defri Andra (21) yang sempat di kabarkan hilang sejak malam minggu tepatnya sabtu (4/6) kemarin.(egy)
DUMAI (VOKAL) – Pihak kepolisian resort (Polres) Dumai, kembali melakukan penyidikan Tempat Kejadian Perkara (TKP), selasa (7/6) siang guna mengambil sidik jari pelaku perampokan yang disertai dengan dugaan pemerkosaan, dan pembunuhan, terhadap korban Tianova Risayulbi (16) dan ibu tirinya Lilis Suryani (45).
Dari TKP pihak kepolisian berhasil mengamankan dua buah botol minuman keras merek Vodka, dan serpihan pecahan piala yang di duga untuk menghabisi nyawa korban, selain itu juga beberapa bagian rumah yang diduga telah di sentuh olek pelaku juga di olah untuk pengembilan seidik jari tersangka.
Hal tersebut sudah yang kedua kalinya di lakukan oleh pihak labfor polres dan beberapa satuan Intel Polres Dumai, guna menyelidiki siapa tersangka yang telah melakukan pembunuhan dan dugaan pemerkosaan tersebut.
Pihak kepolisian telah diberikan batasan penyidikan oleh Kapoles selama tiga bulan kasus tersebut harus sudah terselesaikan, dan dalam jangka satu minggu harus ada perkembangan penyidikan paling tidak telah di temukan titik terang nya.
kapolres AKBP Rudi Abdi kasenda, melalui Kasubag Humas AKBP Suwarji kepada Vokal selasa (7/6) saat di temui di ruangan nya. Mengatakan,” pihak kepolisian telah mendapat arahan untuk dapat melakukan penyidikan selama tiga bulan paling lambat pelaku harus sudah di temukan,dan jarak satu minggu harus sudah ada titik terang dari penyidikan kasus perampokan yang di sertai pembunuhan tersebut.”kata Suwarji.
Selain itu Suwarji sangat mengharap kan kerja sama seluruh lapisan masyarakat untuk membantu pihak kepolisian dalam mengungkap informasi serta menyelesaikan setiap ada hal kasus yang senada,”pintanya.
Dalam jangka dua hari telah di temukan tiga sosok mayat di tempat yang berbeda dengan modus yang sama serta jumlah korban yang berbeda, selain korban nova dan ibu nya kembali di temukannya salah seorang mayat laki-laki yang bernama Defri Andra (21) yang sempat di kabarkan hilang sejak malam minggu tepatnya sabtu (4/6) kemarin.(egy)
Nova Sempat Sms Keabangnya Minta Diajarkan Main Gitar
>> Banyak Terdapat Tanda-Tanda Sebelum Kepergian Korban
DUMAI (VOKAL) – Tianova Risayulbi (16 ) korban Perampokan, yang sempat di perkosa sebelum di bunuh bersama ibu kandung nya Lilis Suryani (45) di kediaman mereka di jalan Lembaga, gang TS Saleh II , Kelurahan Bumi ayu Kecamatan Dumai Timur. Sempat Mengirimkan Sand Massege Sentre (SMS) kepada abang nya yang berada di Pasaman (Sumatra Barat).
Dalam SMS tersebut korban sempat meminta kepada sang abang kandung untuk di ajarkan main gitar karena ia baru di belikan gitar oleh ayah tiri nya.
Selain itu Nova juga sempat ingin di kunjungi oleh sanak saudara, serta ibu kandung nya yang berada di pasaman Sumatra Barat ( Sumbar), namun rencana itu belum sempat terlaksanakan karena pihak keluarga di kampung belum menemukan Durian dan buah kuini yang bgus untuk di bawa ke Dumai.”kata Wan, ayah kandung Tianova Risayulbi, kepada Vokal selasa (7/6) saat di temui di rumah duka.
Tianova Risayulbi adalah anak kandung dari pasangan Itin (44) dan Wan (48), yang menetap di pasaman Sumbar, Nova merupakan anak ke empat dari empat bersaudara, yang di minta oleh kakak kandung sang ibu Itin (44) untuk merteka pelihara di karenakan kakak dari ibu kandung nova tedak dapat mempunyai keturunan.
Nova, yang bercita-cita ingin menjadi perawat tersebut, di asuh oleh kakak dari ibu kandungnya tersebut sejak umur 8 bulan setelah lahir di kota selat panjang, dan di bawa ke kota Dumai hingga di sekolah kan dan di besarkan oleh mereka. Dengan penuh kasih sayang.
Namun tanpa di sadari ajal menjemputnya bersamaan dengan ibu tiri nya tersebut yakni kakak dari ibu kandung nya, dengan cara yang sangat tragis.
Pihak keluarga berharap jika nanti pelakunya sudah tertangkap kami mohon di hukum yang seberat-berat nya, klu dapat di siksa terlebih dahulu baru setelah itu di hukum mati,”kata ibu kandung Nova, Itin (44) kepada Vokal saat ditemui dirumah duka selasa (7/6).(egy)
DUMAI (VOKAL) – Tianova Risayulbi (16 ) korban Perampokan, yang sempat di perkosa sebelum di bunuh bersama ibu kandung nya Lilis Suryani (45) di kediaman mereka di jalan Lembaga, gang TS Saleh II , Kelurahan Bumi ayu Kecamatan Dumai Timur. Sempat Mengirimkan Sand Massege Sentre (SMS) kepada abang nya yang berada di Pasaman (Sumatra Barat).
Dalam SMS tersebut korban sempat meminta kepada sang abang kandung untuk di ajarkan main gitar karena ia baru di belikan gitar oleh ayah tiri nya.
Selain itu Nova juga sempat ingin di kunjungi oleh sanak saudara, serta ibu kandung nya yang berada di pasaman Sumatra Barat ( Sumbar), namun rencana itu belum sempat terlaksanakan karena pihak keluarga di kampung belum menemukan Durian dan buah kuini yang bgus untuk di bawa ke Dumai.”kata Wan, ayah kandung Tianova Risayulbi, kepada Vokal selasa (7/6) saat di temui di rumah duka.
Tianova Risayulbi adalah anak kandung dari pasangan Itin (44) dan Wan (48), yang menetap di pasaman Sumbar, Nova merupakan anak ke empat dari empat bersaudara, yang di minta oleh kakak kandung sang ibu Itin (44) untuk merteka pelihara di karenakan kakak dari ibu kandung nova tedak dapat mempunyai keturunan.
Nova, yang bercita-cita ingin menjadi perawat tersebut, di asuh oleh kakak dari ibu kandungnya tersebut sejak umur 8 bulan setelah lahir di kota selat panjang, dan di bawa ke kota Dumai hingga di sekolah kan dan di besarkan oleh mereka. Dengan penuh kasih sayang.
Namun tanpa di sadari ajal menjemputnya bersamaan dengan ibu tiri nya tersebut yakni kakak dari ibu kandung nya, dengan cara yang sangat tragis.
Pihak keluarga berharap jika nanti pelakunya sudah tertangkap kami mohon di hukum yang seberat-berat nya, klu dapat di siksa terlebih dahulu baru setelah itu di hukum mati,”kata ibu kandung Nova, Itin (44) kepada Vokal saat ditemui dirumah duka selasa (7/6).(egy)
Dianiaya Ayah Kandung Anak 9 Tahun Lari dari Rumah
DUMAI (VOKAL) – Seorang ayah tega menganiaya anak kandungnya sendiri yang masih di bawah umur. karena tidak tahan di aniaya ayah kandungnya setiap hari, sehingga anak tersebut melarikan diri dari rumah.
Anak dari ayah yang bejad tersebut masing-masing berinisial Bunga (9) dan Andi (11), kedua anak tersebut nekad meninggalkan rumah mereka sendiri karena tidak tahan menerima perlakuakn ayah kandung mereka yang selalu mengeniaya mereka setiap hari.
Kedua anak tersebut di ketahui setelah di lihat tengah berada di depan kantor perlindungan anak kota Dumai, setelah di antarkan oleh Orang yang tak mereka kenal, senin (6/5) sekira pukul 16.00 WIB, melihat mereka selalu menagis pihak Badan Keluarga Berencana, Perlindungan Perempuan, dan Perlindungan Anak (BKB PP dan PA), menyelamatkan mereka serta menanyakan kenapa mereka menangis.
Kedua adik beradik itu mengaku telah di aniaya oleh ayah kandung mereka sendiri yang berinisial AD, sejak mereka pindah ke kota Dumai Pada bulan Februari lalu, karena ayah mereka telah bercerai dari ibu mereka lalu mereka berdua di bawa sang ayah untuk ikut ke kota Dumai.
Semenjak perceraian itu mereka selalu di pukul ayah kandung mereka, dengan menggunakan tali pinggang serta selalu di pijak di bagian badan dan perut.
Andi (11) kepada Selasa (7/6) mengatakan,” ia selalu di pukul dan di pijak di bagian perut oleh ayahnya, sehingga ia merasakan sakit di bagian kepala dan perut.”ujarnya.
Namun lain halnya dengan bunga (9) adik kandung dari Andi (11), menurut Andi” adik saya selalu di libas pakai kepala tali pinggang dan juga sering di pijak sama ayah mereka.
Mengetahui keterangan tersebut pihak BKB PP dan PA langsung membawa merek ke polres Dumai pada selasa (7/6) sekira pukul 10.00 WIB, guna melaporkan perlakuan ayah kedua anak yang masih dibawah umur tersebut.
Marlina, Sub Kabid Perlindungan anak di BKB PP dan PA, kota Dumai menuturkan,”hal ini tergolong kekerasan pendidikan dan depresi kekerasan fisiklis, serta hal seperti ini sangat tidak pantas di dapatkan oleh kedua anak tersebut. Namun , menurut marlina untuk penyidikan lebih lanjut Pihak BKB PP dan PA telah mengaman kan kedua anak malang itu ke rumah aman.”kata Marlina.
Dan ketika di tanya apa yang di lakukan kepada pihak ayah kandung, marlina mengatakan,”untuk sanksi atau hukuman nya kita serahkan saja ke pihak kepolisian tersempat,”jelas Marlina.(egy)
Anak dari ayah yang bejad tersebut masing-masing berinisial Bunga (9) dan Andi (11), kedua anak tersebut nekad meninggalkan rumah mereka sendiri karena tidak tahan menerima perlakuakn ayah kandung mereka yang selalu mengeniaya mereka setiap hari.
Kedua anak tersebut di ketahui setelah di lihat tengah berada di depan kantor perlindungan anak kota Dumai, setelah di antarkan oleh Orang yang tak mereka kenal, senin (6/5) sekira pukul 16.00 WIB, melihat mereka selalu menagis pihak Badan Keluarga Berencana, Perlindungan Perempuan, dan Perlindungan Anak (BKB PP dan PA), menyelamatkan mereka serta menanyakan kenapa mereka menangis.
Kedua adik beradik itu mengaku telah di aniaya oleh ayah kandung mereka sendiri yang berinisial AD, sejak mereka pindah ke kota Dumai Pada bulan Februari lalu, karena ayah mereka telah bercerai dari ibu mereka lalu mereka berdua di bawa sang ayah untuk ikut ke kota Dumai.
Semenjak perceraian itu mereka selalu di pukul ayah kandung mereka, dengan menggunakan tali pinggang serta selalu di pijak di bagian badan dan perut.
Andi (11) kepada Selasa (7/6) mengatakan,” ia selalu di pukul dan di pijak di bagian perut oleh ayahnya, sehingga ia merasakan sakit di bagian kepala dan perut.”ujarnya.
Namun lain halnya dengan bunga (9) adik kandung dari Andi (11), menurut Andi” adik saya selalu di libas pakai kepala tali pinggang dan juga sering di pijak sama ayah mereka.
Mengetahui keterangan tersebut pihak BKB PP dan PA langsung membawa merek ke polres Dumai pada selasa (7/6) sekira pukul 10.00 WIB, guna melaporkan perlakuan ayah kedua anak yang masih dibawah umur tersebut.
Marlina, Sub Kabid Perlindungan anak di BKB PP dan PA, kota Dumai menuturkan,”hal ini tergolong kekerasan pendidikan dan depresi kekerasan fisiklis, serta hal seperti ini sangat tidak pantas di dapatkan oleh kedua anak tersebut. Namun , menurut marlina untuk penyidikan lebih lanjut Pihak BKB PP dan PA telah mengaman kan kedua anak malang itu ke rumah aman.”kata Marlina.
Dan ketika di tanya apa yang di lakukan kepada pihak ayah kandung, marlina mengatakan,”untuk sanksi atau hukuman nya kita serahkan saja ke pihak kepolisian tersempat,”jelas Marlina.(egy)
Senin, 06 Juni 2011
Loper VokalTewas Dibuang Dipinggir Jalan
DUMAI(Vokal)--Seorang loper koran yang bekerja di harian Vokal bernama Defiander ( 21) warga
Jalan Sidorejo, Gang Muria, Senin (6/6) sekitar pukul 19.00 WIB ditemukan tewas dan mayatnya
dibuang di Jalan BTN Taman Mina Patra. Saat ditemukan, posisi korban dalam keadaan teletang didalam parit dibawah pohon sawit dan tubuhnya ditutup dengan menggunakan pelepah sawit. Saat diperiksa, pertama tidak ada ditemukan identitas korban.
Pertama kali, korban ditemukan oleh seorang ibu dan anaknya, yang saat itu melintas dipinggir jalan. Atas temuan itu, lalu warga melaporkan kepada pos petugas sacurity Pertamina yang tak jauh dari Tempat kejadian Perkara (TKP). Diduga, korban sengaja dibunuh dan lalu dibuang ditempat itu. Bahkan, korban telah beberapa hari berada ditempat tersebut, sebab dari beberapa bagian tubuh sudah mengeluarkan aroma tidak sedap.
Selain itu ditubuh korban ditemukan beberapa luka seperti tusukan sejata tajam diperut, dan beberapa bagian tubuh korban juga terdapat beberapa luka. Menurut pihak keluarga, korban tidak pulang ke rumah sejak dua hari yang lalu."Sejak malam minggu, dia (korban) keluar dan pulang sebentar. Kemudian sekitar pukul 10.00 malam, dia keluar dengan alasan untuk mengambil gitar,"kata Paman korban Muhamad Safir
Sejak tak pulang itu, lalu pihak keluarga berusaha melakukan pencarian dengan cara menghubungu nomor HP korban, namun sudah tidak aktif. Dari sini, timbul kecurigaan keluarga, dan lalu terus berupaya melakukan pencarian terhadap korban. Bahkan, keluarga sempat meminta bantuan paranormal dan disebutkan kalau korban berada di Bukit Timah.
Temuan korban telah menjadi mayat oleh keluarga, setelah mendapat kabar dan kemudian pihak keluarga mendatangi kamar mayat RSUD. Dan begitu dilihat ciri-ciri korban, ternyata benar kalau mayat tersebut adalah keponakannya yang telah dua hari menghilang.
Kapolres Dumai, melalui Kasat Reskrim, AKP Devy Firmansyah SIK, yang dikonfirmasi Dumai Pos, kasus ini masih dalam penyelidikan. Berat dugaan, korban sebelumnya dibunuh dan lalu dibuang oleh pelaku di TKP."Kita akan minta keterangan-keterangan saksi kira-kira dengan siapa korban keluar malam itu,"jelas Kasat.
Pantauan Dumai Pos, setelah korban dibersihkan dan di visum, kemudian pihak keluarga langsung membawa korban kerumah duka. Kini, untuk mengungkap pelakunya pembuhan ini, pihak kepolian masih melakukan penyelidikan(egy)
ABG DIPERKOSA LALU DI BUNUH BERSAMA IBUNYA
DUMAI (VOKAL) - Seorang ibu dan anaknya ditemukan tewas berlumuran darah di dalam kamar rumahnya. Kondisi kedua korban sangat mengenaskan. Sekujur tubuh kedua korban penuh dengan luka tusukan. Tragisnya lagi, anak korban sebelum dibunuh diperkosa terlebih dahulu.
Senin 6 Juni 2011, Warga di Kelurahan Bumi Ayu, Jalan TS Saleh II Dumai, digemparkan dengan ditemukannya, Lilis Suryani usia 45 tahun dan anaknya Tianova Risayulbi usia 16 tahun pelajar kelas I di SMA Negeri I Bukit Jin Dumai, di rumahnya, dalam kondisi tidak bernyawa.
Kedua korban pertama kali dijumpai oleh ayah korban yakni Irfa Amris usia 48 tahun, yang baru saja pulang dari luar kota. Irfa Amris yang bekerja di kantor Navigasi Kota Dumai, tiba di rumahnya Minggu malam pada pukul 19:00 WIB.
Setelah berkali-kali memanggil kedua korban yang tidak kunjung mendapat jawaban, Amris pun mencoba mencari kedua korban dengan berkeliling Kota Dumai. Namun hingga pukul 23:00 WIB kedua korban tidak ditemukan.
Amris pun kembali kerumahnya dan melihat sesuatu yang mencurigakan berupa lampu di garasi mobil yang menyala. Padahal biasanya lampu tersebut padam. Kemudian Amris pun memanjat rumahnya untuk melihat yang terjadi dan Amris dikejutkan dengan ditemukannya istrinya Lilis Suryani di tempat tidur dalam kondisi berlumuran darah dengan tangan serta kaki terikat dan tidak bernyawa.
Sementara anaknya Tianova Risayulbi, ditemukan di sudut kamar dalam posisi duduk, dengan puluhan luka tusuk senjata tajam serta pakaian acak-acakan dan dalam keadaan juga sudah tidak bernyawa.
Melihat kejadian ini, Amris melaporkan peristiwa yang terjadi kepada polisi.
Sat Reskrim Polsek Dumai Timur yang menerima laporan tersebut mengamankan Tempat Kejadian Perkara atau TKP dan memasang garis polisi, agar tim identifikasi Polres Dumai dapat melakukan olah TKP.
Dari hasil olah TKP dan Visum, dugaan sementara kedua korban adalah korban perampokan sadis. Sebab, selain luka bekas penganiayaan yang cukup sadis sehingga menewaskan kedua korban, harta milik korban juga dikuras oleh pelaku yang hingga kini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Hasil visum juga membuktikan, korban Tianova Risayulbi pelajar kelas I SMA Negeri I Bukit Jin Dumai mengalami pemerkosaan terlebih dahulu sebelum akhirnya dibunuh.
Pantauan Riau Televisi, warga banyak menyaksikan jalannya proses olah TKP pihak kepolisian di rumah korban. Sementara di rumah duka di Jalan Sudirman Gang Karya I, ratusan siswa SMA Negeri I Dumai I beserta para guru memenuhi rumah duka. Isak tangis kawan korban yang menyaksikan proses pemakaman mewarnai duka keluarga korban yang sangat dalam.
Walikota Dumai Khairul Anwar juga menyempatkan hadir untuk melihat kondisi korban.
Menurut walikota, perbuatan pelaku adalah tindak pidana yang kejam sekali.
Apa motif pelaku pembunuhan pun belum diketahui.
Walikota mengharapkan pihak kepolisian melakukan upaya penyelidikan maksimal untuk mengungkap kasus ini.
Atas kejadian ini walikota mengingatkan agar masyarakat meningkatkan keamanan, seperti peningkatan siskamling.**
Senin 6 Juni 2011, Warga di Kelurahan Bumi Ayu, Jalan TS Saleh II Dumai, digemparkan dengan ditemukannya, Lilis Suryani usia 45 tahun dan anaknya Tianova Risayulbi usia 16 tahun pelajar kelas I di SMA Negeri I Bukit Jin Dumai, di rumahnya, dalam kondisi tidak bernyawa.
Kedua korban pertama kali dijumpai oleh ayah korban yakni Irfa Amris usia 48 tahun, yang baru saja pulang dari luar kota. Irfa Amris yang bekerja di kantor Navigasi Kota Dumai, tiba di rumahnya Minggu malam pada pukul 19:00 WIB.
Setelah berkali-kali memanggil kedua korban yang tidak kunjung mendapat jawaban, Amris pun mencoba mencari kedua korban dengan berkeliling Kota Dumai. Namun hingga pukul 23:00 WIB kedua korban tidak ditemukan.
Amris pun kembali kerumahnya dan melihat sesuatu yang mencurigakan berupa lampu di garasi mobil yang menyala. Padahal biasanya lampu tersebut padam. Kemudian Amris pun memanjat rumahnya untuk melihat yang terjadi dan Amris dikejutkan dengan ditemukannya istrinya Lilis Suryani di tempat tidur dalam kondisi berlumuran darah dengan tangan serta kaki terikat dan tidak bernyawa.
Sementara anaknya Tianova Risayulbi, ditemukan di sudut kamar dalam posisi duduk, dengan puluhan luka tusuk senjata tajam serta pakaian acak-acakan dan dalam keadaan juga sudah tidak bernyawa.
Melihat kejadian ini, Amris melaporkan peristiwa yang terjadi kepada polisi.
Sat Reskrim Polsek Dumai Timur yang menerima laporan tersebut mengamankan Tempat Kejadian Perkara atau TKP dan memasang garis polisi, agar tim identifikasi Polres Dumai dapat melakukan olah TKP.
Dari hasil olah TKP dan Visum, dugaan sementara kedua korban adalah korban perampokan sadis. Sebab, selain luka bekas penganiayaan yang cukup sadis sehingga menewaskan kedua korban, harta milik korban juga dikuras oleh pelaku yang hingga kini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Hasil visum juga membuktikan, korban Tianova Risayulbi pelajar kelas I SMA Negeri I Bukit Jin Dumai mengalami pemerkosaan terlebih dahulu sebelum akhirnya dibunuh.
Pantauan Riau Televisi, warga banyak menyaksikan jalannya proses olah TKP pihak kepolisian di rumah korban. Sementara di rumah duka di Jalan Sudirman Gang Karya I, ratusan siswa SMA Negeri I Dumai I beserta para guru memenuhi rumah duka. Isak tangis kawan korban yang menyaksikan proses pemakaman mewarnai duka keluarga korban yang sangat dalam.
Walikota Dumai Khairul Anwar juga menyempatkan hadir untuk melihat kondisi korban.
Menurut walikota, perbuatan pelaku adalah tindak pidana yang kejam sekali.
Apa motif pelaku pembunuhan pun belum diketahui.
Walikota mengharapkan pihak kepolisian melakukan upaya penyelidikan maksimal untuk mengungkap kasus ini.
Atas kejadian ini walikota mengingatkan agar masyarakat meningkatkan keamanan, seperti peningkatan siskamling.**
Penyelesaian Proyek PAB Ditangan Walikota
>>menunggu persetujuan surat rekomendasi dari wako
DUMAI (VOKAL) - Kekhawatiran tersandung persoalan hukum menjadi titik berat Pemko Dumai saat ini untuk melunasi pembayaran Proyek Air Bersih. Akibat belum dibayarkan, Pemko Dumai seperti berada pada posisi sulit ditambah adanya desakan sejumlah anggota DPRD Dumai agar pembayaran proyek multiyears tersebut disegerakan.
Namun semua telah berada di tangan walikota Dumai, H Khirul Anwar, sesuai pembahasan rapat rekomendasi yang di laksanakan di lantai tiga gedung walikota Dumai pada senin (6/6) pagi, dalam rapat tersebut di jelaskan semua temuan BPK, dan di bayar atau tidaknya proyek tersebut tinggal menunggu keputusan Wali kotadan semua perlengkapan tersebut telah di tangan pemko Dumai.
Oleh karena itu pihak pemko akan membuat surat rekomendasi untuk wali kota Dumai guna menanggapi kebijakan pengadaan, barang, dan jasa pemerintahan (LKPP) atas konsultasi permasalahan penyelesaian kontrak proyek EPC pembangunan Uprating IPA dari kapasitas 40 L/detik manjadi 80 L/detik, di jalan jendral sudirman.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas PU Kota Dumai, H Zulkifli Said, beberapa waktu lalu jelas-jelas menyebutkan untuk melakukan pencairan pembayaran mengandung resiko tinggi. apalagi realisasi progres kerja yang dilaksanakan tiga rekanan BUMN sarat dengan permasalahan. Seperti adanya kesalahan teknis pekerjaan yang tidak sesuai dengan kontrak kerja.
Hal ini menjadi pertimbangan Pemko Dumai untuk bertindak hat-hati. Khawatirnya jika pembayaran proyek tersebut tetap dilakukan dengan kondisi saat ini menjadi perangkap yang dapat masuk kedalam jeratan hukum. Pasalnya dalam penilian terhadap progres kerja perusahaan tersebut sesuai realisasi pekerjaan menyalahi aturan.
"Sejak awal proyek ini sudah salah karena tidak sesuai dengan aturan mekanisme proyek multiyears. Bahkan secara teknis realisasi pekerjaan yang sudah ada belum diketahui pasti ketepatannya. Tentu saja kita tidak berani membayarnya," kata Kadis.
Dalam pelaksanaanya, ternyata dinilai Zulkifli paket proyek air minum tersebut tidak tergambar adanya satu kesatuan terhadap pelaksanaan proyek multiyears.
Ia menilai paket yang dirangkum dalam kegiatan multiyers tersebut terpecah-pecah padahal sesuai aturan dan mekanismenya tidak. Sementara yang ditemukannya dalam satu paket itu, dipecah menjadi tiga paket lain yang menyertainya. Sedangkan masing-masing paket tersebut dikerjakan oleh tiga perusahaan yakni PT Waskita Karya, PT Adhi Karya dan Nindya Karya.
Dirincinya, untuk PT Waskita Karya dan PT Adhi Karya adalah melakukan pengerjaan terhadap pengadaan jaringan pipa dan sambungan rumah. Saat ini sudah mengalami addendum sampai Mei 2011.
Sedangkan untuk PT Nindya Karya yang mengerjakan pengolahan air juga mengalami perpanjangan masa kontrak sampai sembilan Desember 2010 lalu. Realisasi pekerjaan belum dilakukan opname oleh pihaknya untuk mengetahui kebenaran teknis pelaksanaan pekerjaan.
"Kalau dibayar untuk PT Waskita dan Adhi Karya tersebut yang muncul nantinya adalah proyek pipa bukan air minum. Karena dua perusahaan tersebut hanya mengerjakan istalasi pipa. Kita juga belum mengetahui teknis pekerjaan yang telah dilaksanakan baik Waskita ataupun Adhi Karya tentang kesesuaian spek dan kekuatan pipanya," katanya. (egy)
Langganan:
Postingan (Atom)

